CILEGON – Dunia siaran dan jurnalisme Indonesia punya satu nama yang konsisten berkarya lintas generasi: Shinta Berlian. Penyair radio, jurnalis, sekaligus broadcaster ini telah menghabiskan 35 tahun jam terbang di udara, mengisi ruang dengar publik dengan suara khas yang memikat jutaan pendengar.
Di usia ke-55, Shinta Berlian tetap aktif berkarya. Kini ia menjadi Broadcaster Media Online Nasional Jurnal KUHP, membawa pengalaman puluhan tahun ke format digital yang lebih dekat dengan anak muda.
Suara Khas yang Jadi “Ciri Khas” Radio Indonesia
Nama Shinta Berlian pertama kali dikenal publik sebagai penyair radio. Bait-bait puisinya yang dibacakan dengan intonasi khas, jeda yang tepat, dan penghayatan mendalam membuat banyak pendengar terkesima.
“Khas suara ketika siaran membuat banyak fans-nya terkesima. Ada kehangatan, ada wibawa, ada rasa yang sampai ke hati,” ungkap salah satu pendengar setianya.
Tak heran, selama 35 tahun ia dipercaya berbagai stasiun radio nasional dan komunitas siaran untuk membawakan program talkshow, sastra, hingga feature jurnalis.
Puluhan Tahun Menulis, Karya Jurnalistiknya Tak Kalah Populer
Selain di udara, Shinta Berlian juga menancapkan jejak di dunia tulis. Ia menekuni dunia jurnalis selama puluhan tahun, menulis feature, opini, dan reportase humanis. Tulisan-tulisannya dikenal tajam tapi tetap memanusiakan, sehingga banyak dibaca dan dikutip media lain.
Kekuatannya: memadukan “rasa penyair” dengan “logika jurnalis”. Hasilnya, berita jadi lebih hidup dan dekat dengan pembaca.
Eksis di Era Digital: Podcaster Jurnal KUHP
Memasuki era digital, Shinta Berlian tidak berhenti. Di usia 55 tahun, ia aktif sebagai broadcaster di Media Online Nasional Jurnal KUHP.
Banyak karya podcast-nya yang “terbang” di kanal YouTube, Instagram, dan TikTok Jurnal KUHP. Format podcast monolog, wawancara tokoh, hingga bedah isu sosial jadi ciri khasnya. Dengan gaya bicara khas penyair, ia mengemas isu berat jadi obrolan yang mudah dicerna publik.
“Usia hanya angka. Selama masih bisa menulis, bersuara, dan bermanfaat untuk orang lain, saya akan terus berkarya,” ucap Shinta Berlian.
Legasi untuk Generasi Berikutnya
35 tahun bukan waktu sebentar. Dari radio analog ke podcast digital, Shinta Berlian membuktikan bahwa kualitas suara, integritas jurnalistik, dan konsistensi berkarya adalah kunci bertahan di industri media.
Kiprahnya kini jadi inspirasi bagi broadcaster muda Jurnal KUHP dan generasi jurnalis baru: bahwa suara bisa jadi senjata, puisi bisa jadi berita, dan usia tidak menghalangi untuk terus belajar.
Sebagian mungkin ada yg tau suara khas nya, Karna udah pernah mengudara di beberapa stasiun RADIO.
Diantaranya:
- Patrol Radika di Rajabasa Bandar Lampung tahun 1988
- Radio Citra Prima Mahardika Di Sidoarjo pringsewu thn 1990
- Radio Swara Dwi Amanda Gading rejo Pringsewu 1994
- Radio Sabaputra Fm Pringsewu 1996-2011
- SamRadio Cilegon Banten 2011-2026.
- Wartawan Sumatra Post Pringsewu
- Jurnalis Broadcaster JURNAL KUHP
Kinerja dan Dunia kerja yg sudah di geluti.
(Red).






