Berita TerkiniPulomerak

Truk Tangki Seruduk 2 Rumah di Kota Cilegon

Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit truk tangki air menabrak satu rumah dan satu bengkel motor di Lingkungan Baru 1, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, menyisakan kisah lain.

Dimana pada kecelakaan truk tangki tersebut, seorang ibu dan dua anaknya lolos dari maut, mereka terhindar dari serudukan truk tangki air karena sebuah firasat.

Lantaran firasat tersebut, ibu dan dua anaknya tersebut hanya menderita luka ringan, berbeda dengan nasib sopir truk tangki yang meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.

Diketahui, truk tangki nomor polisi B 9029 PNS mengalami kecelakaan lalu lintas di Lingkungan Baru 1, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Selasa 26 Oktober 2021, sekitar pukul 12.30 WIB.

Truk tangki bermuatan air bersih tersebut menyeruduk rumah dan bengkel motor di tempat kejadian perkara di Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon.

Dalam kecelakaan tersebut, pengemudi truk tangki yang diketahui bernama Ahmad Sibli (57), warga Ciwandan, Kota Cilegon, meninggal dunia saat perjalanan menuju Rumah Sakit Krakatau Medika atau RSKM Cilegon.

Gegara kejadian tersebut, empat (4) orang turut mengalami luka ringan yakni Pondang Sitorus (55) beserta dua anaknya yakni Tesa Lonika (22) dan Samuel Cresfo (15). Selain itu, Firmansyah (22) si pemilik bengkel juga mengalami luka ringan, ia terdorong kulkas yang sebelumnya ada di dalam rumah Pondang Sitorus.

Tesa Lonika, salah satu anak yang lolos dari maut mengatakan jika adiknya yakni Samuel Cresfo menderita luka memar.

Ini setelah mereka tertimbun reruntuhan rumah, setelah bagian depan rumah mereka ditabrak truk tangki air dari arah samping.

“Adik saya sedang dibawa ke klinik oleh ibu,” katanya kepada wartawan.

Menurut Tesa Lonika, sebelum kecelakaan terjadi dirinya bersama ibu dan adiknya sedang duduk-duduk di depan rumah, sebab selain sambil menunggu warung, suhu udara lebih sejuk.

“Waktu itu kami sedang makan. Kalau makan pasti di depan karena banyak angin,” ujarnya.

Namun entah kenapa, kata Tesa Lonika, ketiganya ketika itu merasa ingin makan di dalam rumah, karena keinginan mereka muncul secara bersamaan, Tesa Lonika, bersama ibu dan adiknya pindah ke dalam.

Tidak berselang lama setelah kepindahan mereka dari depan rumah ke dalam rumah, kecelakaan maut itu pun terjadi.

Menurut Tesa Lonika, suara gemuruh dari arah samping rumah, kemudian tiba-tiba saja mobil truk tangki air menyeruduk bagian depan rumah.

Sebagian atap rumah kemudian runtuh, Tesa Lonika, Pondang Sitorus beserta Samuel Cresfo tertimpa reruntuhan itu.

Sementara bagian depan rumah, kata Tesa Lonika, pasca ditabrak truk tangki tertutup debu tebal, ini karena tembok depan rumah rata akibat diseruduk truk.

“Depan rumah saya tertutup debu tebal, setelah itu samar-samar saya melihat ada truk tangki air di depan rumah,” tuturnya.

Tesa Lonika mengatakan, usai kecelakaan ia menyadari jika munculnya perasaan secara bersama untuk pindah ke dalam rumah merupakan sebuah firasat.

Karena firasat itu, ia bersama ibu dan adiknya lolos dari maut, mengingat kekuatan hantaman truk telah membuat tembok dan bangunan-bangunan lain di depan rumahnya rata.

“Tembok saja sampai rata, apalagi manusia. Makanya, kami merasa diselamatkan oleh Tuhan melalui firasat. Hidup dan mati orang, memang Tuhan yang menentukan,” ucapnya

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button