Berita TerkiniJombang

Reaksi Helldy Agustian Saat Menonton Yuni, Film Pemenang TIFF 2021

Yuni, film layar lebar pemenang Toronto Internasional Film Festival atau TIFF 2021 mulai ditayangkan secara terbatas di Indonesia. Yuni, film pemenang TIFF 2021 garapan sutradara Kamila Andini ini diputar secara perdana di Bioskop Cilegon XXI, Ciplaz Ramayana Prime Cilegon, Minggu 17 Oktober 2021.

Pada Penayangan perdana fil Yuni, Wali Kota Cilegon Helldy Agustian turut hadir untuk menonton film berbahasa Jawa Serang atau Jaseng dan Banten tersebut.

Hadir pula para pemeran film yang akan tayang secara penuh pada 9 Desember 2021 tersebut, seperti pemeran utama Arawinda Kirana, Marissa Anita, Neneng Wulandari, serta Boah Sartika.

Usai menonton, Helldy Agustian mengaku bangga melihat film tersebut, apalagi di sejumlah scene terdapat sejumlah lokasi yang diambil dari Wilayah Cilegon. “Ada Candra Asri (PT Candra Asri Petrochemical) dan PLTU Suralaya Merak. Saya jadi merasa bangga, apalagi filmnya berbahasa Jaseng dan Sunda Banten,” katanya.

Menurut Helldy, tema yang diambil pada film ini juga sangat baik, mengambil dari isu-isu yang memang sering muncul pada pelajar siswi.

Seperti pilihan antara menikah atau meneruskan kuliah selepas SMA, juga tentang sulitnya bagi murid dari keluarga menengah ke bawah untuk mendapatkan beasiswa.

“Temanya juga bagus, persoalan-persoalan yang sering muncul di kalangan siswi remaja. Kami pun di Pemkot Cilegon memiliki solusi seputar persoalan beasiswa. Yakni program beasiswa full sarjana,” ujarnya.

Baca Juga: Sinopsis Film Aksi Terbaru No Time to Die, Akhir dari Era Daniel Craig Sebagai James Bond

Hal paling ia kagumi, itu tidak lain dedikasi dari para pemain film, dimana mereka dituntut untuk berbahasa Jaseng dan Sunda Banten. Kata Helldy Agustian, para pemeran harus belajar Jaseng selama tiga bulan, sebelum mereka shooting film Yuni.

“Dedikasi para pemain filmnya juga saya acungi jempol. Pemeran utamanya (Arawinda Kirana) waktu saya tanya, dia belajar tiga bulan sebelum shooting. Hasilnya, bagus sekali,” tuturnya.

Helldy Agustian pun mengatakan jika pesan moril pada film tersebut sangat bagus, yakni tentang pentingnya tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Ini kan tentang seorang siswi yang menolak dipersunting orang hingga dua kali. Karena si siswi ingin dapat beasiswa kuliah. Jelas ini bagus, mengedukasi remaja siswi agar punya tekad yang kuat,” ucapnya.

Sementara itu, Arawinda Kirana membenarkan jika dirinya harus belajar keras untuk bisa berbahasa Jaseng.

Katanya, sebelum shooting ia tinggal di sebuah penginapan di perkampungan Serang, untuk belajar Jaseng.

“Saya tinggal di home stay sebuah perkampungan di Serang. Jadi saya bangun jam 5 pagi, ikut ke sawah, masak, berlatih silat,” katanya.

“Di sana pula, saya belajar Jaseng dari warga sekitar. Tapi sebelumnya saya juga diajari dialek Jaseng oleh tim dari serang,” tambahnya.

Ditanya kalimat Jaseng apa saja yang sampai sekarang diingat pemeran Yuni ini, sambil tersipu-sipu Arawinda Kirana menyebut sejumlah kata Jaseng.

“Turu, itu kalimat yang paling sering saya gunakan selama shooting. Lalu Sire, cocote, sama to’u. Mungkin karena saya masih remaja, yang menempel itu kalimat kasar,” ujarnya.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button