Gaya Politik ala Nahdliyin, memberi Solusi Menurunkan Tensi

by

Liputancikegon.com | Cilegon – Menyoroti fenomena organisasi besar ke agamaan, warga Nahdliyyin di Kota Cilegon menjadi daya tarik tersendiri dalam kiprahnya, organisasi NU (Nahdatul Umat) dan banom Ansor, fatayat, muslimat, Pergunu, Hisnu dan lain – lain, menjadi bidikan dalam bidang politik, ekonomi sosial dan budaya yang ada di kota Cilegon.

Menurut Suroj Albantani ketua umum Pergunu Kota Cilegon, Pileg 2024 meski mungkin tak sekeras dan taksepedas Pilpres 2019, tetap saja kita wajib waspada untuk . menjaga Ibu Pertiwi ini dari adanya polarisasi politik yang mengancam keutuhan bangsa agar tidak terbelah/terpecah menjadi dua, tiga kelompok yang sedikit demi sedikit akan menggerogoti dan mendegradasi persatuan dan kesatuan bangsa yg kita cintai ini.

“Tengok saja bermunculannya Pahlawan yang menjelma menjadi malaikat bagi kelompoknya dan menjadi fredator bagi kelompok lainnya, setiap mereka mempunyai dalil dan landasan yang kuat dan suci untuk berjihad bagi kelompoknya dan sebaliknya digunakan sebagai senjata untuk menguliti menyerang serta menghabisi kelompok lainnya,”Beber Suroj Albantani ketua umum pergunu kota cilegon kepada media liputancilegon.com

Kata dia. Mengapa Orang baik terpecah karena berbeda pilihan Politik? Tengoklah bahasa langit yang digunakan dengan penuh hiperbola untuk membela kelompoknya, dan tengok pula bahasa sarkasme yang dipilih untuk menjust kelompok lainnya dengan penuh litotes.

Meski demiakn, Hoax dengan berbagai narasi dan modifikasi bertebaran dijagat maya, masif tak terkendali merusak sistem otak/saraf kita, entah dari antah berantah sumbernya juga abai akan kevalidannya tanpa melakukan chek and richek, checks and balance, sortir and filterasi.

“Itukah moralitas? Itukah agama? Itukah adat istiadat dan budaya bangsa. Tanpa terasa kadang kita masuk dalam arena itu, dengan mudah dan lantang berteriak, kelompok kitalah yang bermoral, kelompok kitalah yang agamis, kelompok kitalah yang benar, Jelas saja, jika hasil penelitian tentang literasi digital, Culuture literacy kita ternyata mundur merosot jongkok,”papar Suroj Albantani di kediamnya.

Sambung Suroji, Dibulan – bulan Politik ini, Tagline/Branding/ Statement/Narasi Ba Post Truth bertubi tubi tak henti dan tak terkendali, meski di alam Maya, namun mampu membrain wash unconscius Kita, agar terbangun stigma dan public opinion hingga yang tampak dipermukaan adalah gelombang kebaikan, kebenaran dan kesucian. Bisa jadi impact dari itu memicu seseorang menjadi “Lone Wolf”, lebih tepatnya menjadi para “jihadis” bagi kelompoknya,”jelas Suroji

Suroji meminta, Saudara sahabat, Bagi kita sebagai garda terdepan komunitas ilmiah dan masyarakat intelektual, terlebih dibulan – bulan politik ini, sudah sewajibnya kita mampu menginternalisasikan dan mengejawantahkan Niliai2 Agama, Adat Istiadat dan Budaya Bangsa Yg Penuh dengan Moderasi, Toleransi, Saling Menghargai dan saling mengasihi tanpa saling menyakiti dan memusuhi antar sesama saudara setumpah darah

Meski begitu, menjadi Timses, pendukung, simpatisan dlm ranah politik itu adalah hak setiap warga negara dan tentu baik, karena itu pertanda pendidikan politik kita semakin cerdas dan semakin care atas hajat politik bangsa. Namun memelihara dan menjaga kerukunan serta keharmonisan persaudaraan antar sesama adalah kewajiban terwajib dan terutama diatas hasrat politiknya dan diatas segala kepentingan apapun

“Tidak sedikit “Kreatifitas” Narasi teks or sound dikolaborasi dg Short Video or Video Modif Dari oknum tak bertanggungjawab dg kemampuan literasi digital yg beragam dan tentu dg latarbelakang dukungan politik yg beraneka. Menyaksikannya sungguh sangat unik, menggelikan, menggelitik dan kadang menarik hati untuk mengkitisi, “Hasrat”nya sangat tinggi dlm menshare atau memviralkan segala sesuatu yg entah dari antah berantah tadi, dan entah nemploknya di ruang medsos apapun tak terkecuali di groups2 wa yg diikuti… terpenting “libido” politikNya tersalurkan,”pungkasnya

Ia berharap kepada Saudara dan Sahabat, tiada bermaksud untuk menggurui, sekedar sharing saja… Bahwa Untuk meminimalisir Ke”Alfa”an kita dalam bermedsos, Setidaknya tiga formula yg dpt kita lakukan dlm bermedsos, yaitu: 1). Be Safe: (Protect Yourself and Others.. Lindungi diri dan orang lain dlm bermedsos tentu dengan etika, sikap, ucapan/perkataan dan perilaku yg etis baik dan beradab), 2) Be Savvy. (Educate Yourself and Others.. jadikan medsos sbg media strategis untuk menjadi pembelajar dan pendidik sepanjang hayat), 3) Be Social (Respect Yourself and Others.. Medsos adalah sarana tanpa batas untuk membangun empati thp sesama).

“Saudara sahabat mari kita berikan teladan diruang Maya ini dengan menjadi seorang Netizen Yg Medsosul Karimah atau setidaknya andai kadung menjadi seorang buzzer, jadilah seorang buzzer yg baik dan benar. Baik Menyampaikannya dan Benar Informasinya. Mudah mudahan Saudara, Sahabat, Warga Nahdliyyin serta warga kota Cilegon Semua, Senantiasa Sehat, bahagia dan berkah Sepanjang Hayat,”harap Suroji

Diakir wawancara, suroji mengatakan. Terkhusus Bagi yg mengaku Warga Nahdliyin sewajibnya kita mampu menginternalisasikan dan mengejawantahkan pedoman berpolitik Jam’iyah ini pada ruang manapun tak terkecuali di ruang digital. (Tengok: Sembilan butir pedoman berpolitik warga NU yang dicetuskan pada Muktamar NU XVIII di Krapyak Yogyakarta tahun 1989).

“Beberapa butirnya antara lain: Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlaqul karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan,”kata Suroji.(*_red).

Leave a Reply

No More Posts Available.

No more pages to load.